Sekilas-Sekilas Visual Literacy

Kategori catatan kaki

Visual literacy adalah suatu tingkat kompetensi. Semua orang memiliki kompetensi ini sejak bayi. Namun, kompetensi tiap-tiap orang sangat mungkin akan tumbuh dalam tingkatan berbeda antara satu dari yang lain. Tergantung kepada pengetahuan, pengalaman, tradisi dan budaya dalam kelompok masyarakatnya. Lantas dipengaruhi pula oleh faktor emosi orang tersebut, pada waktu kompetensi tersebut digunakannya.

Seberapa banyak atau seberapa tinggi kita memerlukan kompetensi ini? Tentu, tergantung kebutuhan dan kepentingan tiap orang. Namun, bayangkan betapa tidak bergunanya rambu lalu lintas, marka jalan, dan aneka tanda serta simbol dalam masyarakat—apabila orang tidak paham maknanya.

Menurut para ahli, kita sekarang adalah masyarakat visual. Hidup dengan budaya dan tradisi visual. Jadi, kompetensi ini berguna untuk memahami apa yang kita serap dari informasi atau hiburan visual. Untuk memahami hal-hal yang hadir ke depan mata kita. Semakin tinggi kompetensi seseorang, semakin paham ia saat mencerna informasi visual. Bahkan jauh melampaui apa yang tampak secara kasat mata, dari suatu informasi atau penyajian visual.

Pembahasan aneka tampilan dan media penyampaian terkait contoh-contoh di atas, salah satunya dapat dikaji dengan semiotika—studi yang awalnya bahasan lapangan linguistik. Guyonan “makanya, jangan termakan iklan” yang populer itu memang mengacu kepada kompetensi visual literacy. Apabila papan reklame dan tayangan komersial sudah jelas tujuannya maka foto, video, film dimaknai tiap-tiap pemirsanya sesuai kompetensi yang dimiliki. Sekali lagi, menurut para ahli, kompetensi itu juga terbentuk oleh dasar berupa pengetahuan tentang sejarah, budaya, pengalaman pribadi, dan kemudian turut dipengaruhi oleh perasaannya.

Bagi fotografer, hal serupa berlaku. Apa yang mendorongnya untuk membuat foto termasuk sangat dipengaruhi kompetensi visual literacy. “Seni melihat” terkait dengan hal ini. Saat memotret, fotografer dipengaruhi oleh pengetahuannya tentang sejarah, tradisi, budaya, pengalaman, juga perasaannya. Ini dapat menjelaskan mengapa suatu cerita foto (picture story) dianggap oleh Henri Cartier-Bresson sebagai suatu hasil dari “operasi gabungan” yang dilakukan bersama oleh otak, mata, dan hati (buku Pada Suatu Foto halaman 241).

Apabila seorang penulis menulis maka seorang fotografer memotret—dalam konteks menyampaikan berita, cerita, pesan, kesan, pertanyaan, ide, maupun perasaannya. Dalam buku Kisah Mata—Fotografi antara Dua Subyek: Perbincangan tentang Ada, Seno Gumira Ajidarma di antaranya membahas bahwa aktivitas fotografi bisa saja disetarakan dengan proses berbahasa di antara pemotret dan audiens. “Keberaksaraan visual,” demikian istilah yang digunakan dalam buku tersebut.

Itu kira-kira kaitan antara pemikiran, pengetahuan, dan perasaan dengan proses pembuatan foto, yang merupakan bagian dari kompetensi visual literacy sang fotografer.

Jakarta (2013) • Reynold Sumayku

Kemudian juga ada yang disebut media literacy. Pada dasarnya, ini adalah yakni kompetensi seseorang untuk memahami penyajian berita teks maupun berita visual di media massa. Dalam konteks masyarakat kita dewasa ini, kompetensi media literacy akan memungkinkan orang, misalnya, mampu mengkritisi dan memahami mana berita yang jujur, adil, yang kurang jujur dan adil, yang provokatif, yang sedikit bohong, maupun yang benar-benar bohong.

Kesemua hal ini terkait yang dikatakan oleh Umberto Eco, bahwa tanda (dalam kajian semiotika) adalah “segala sesuatu yang, dengan mengetahuinya, kita akan mengetahui lebih banyak lagi” (buku Pada Suatu Foto halaman 135). Pada dasarnya, buku Pada Suatu Foto memang berusaha disusun dengan latar belakang ihwal visual literacy dan media literacy.—Reynold Sumayku