Psikoanalisis dan Karya Visual

Kategori catatan kaki

Salah satu hal menarik dari diskusi buku Pada Suatu Foto di Passiflora Cafe kemarin (Minggu 5/2) adalah bahasan bahwa “semiotika bukan satu-satunya kajian bermanfaat dalam pengembangan kompetensi visual literacy.”

Memang benar demikian. Dalam buku ini, perspektif dari studi tentang tanda hanyalah sebagian materi pembahasan. Terdapat berbagai kilasan kajian pengetahuan di bidang lain, yang juga ikut menentukan mode ekspresi fotografer, sekaligus akan ikut membentuk kompetensi visual literacy pada audiens maupun praktisinya. Dalam buku Pada Suatu Foto, di antaranya dibahas contoh pendekatan sejarah, budaya, seni, linguistik, maupun sekilas latar belakang politik yang mempengaruhi pemaknaan dan apresiasi karya visual. Secara lebih luas, apa yang dikatakan Umberto Eco—pemikir postmodernisme—kiranya dapat mewakili:  “tanda adalah segala sesuatu yang, dengan mengetahuinya, kita akan mengetahui lebih banyak lagi.” (halaman 135)

Bagi praktisi visual, peningkatan kompetensi visual literacy pada audiens akan menguntungkan. Sebabnya, seperti penggalan kutipan dari definisi visual literacy yang dikemukakan John Debes pada 1969, “…Melalui penggunaan berbagai kompetensi ini secara apresiatif, seseorang mampu memahami karya-karya besar dalam komunikasi visual.” (lengkapnya di halaman 104)

Dalam diskusi kemarin, salah satu pembahasan yang sudah disiapkan namun tidak kebagian waktu adalah kaitan antara fotografi dan kajian psikoanalisis. Dalam buku, disebutkan bahwa, “Di New York, Minor White mendalami analisis foto, baik dari sudut pandang formal maupun berdasarkan teori psikoanalisis.” (halaman 151)

Sekadar penjelasan istilah, teori psikoanalisis lahir dan dikembangkan dari dasar pemikiran yang diletakkan oleh Sigmund Freud pada akhir abad ke-19. Teori psikoanalisis terkait dengan pengorganisasian karakter personal serta pengembangan karakter personal secara dinamis. Kajian ini kemudian diaplikasikan dalam proses analisis terhadap karya-karya visual, atau juga—apabila dibalik—konsep dan perancangan karya-karya itu (dalam kaitan dengan mode ekspresi maupun praktik komunikasi). Lebih jauh mengenai kaitan antara psikoanalis dan bentuk visual, para ahlinya yang akan dapat menguraikan.

Di Internet terdapat berbagai contoh pendekatan psikoanalisis yang aplikasinya berupa kuis atau tes persepsi psikologis, dengan bantuan bentuk visual (misalnya foto, sketsa, diagram, dsb). Dengan mengikuti berbagai kuis tersebut (kemudian dianalisis hasilnya), dikatakan bahwa karakter kepribadian kita “dapat terbaca”.

Beberapa waktu lalu, iseng-iseng saya mengikuti salah satu tes seperti itu. Kita diminta “membaca” atau “menginterpretasikan” sejumlah foto dan sketsa secara satu-persatu. Untuk tiap-tiap foto dan sketsa, tersedia beberapa pilihan jawaban. 

Setelah menyelesaikan kuis tersebut, muncul hasilnya. Saat pertama kali mengikuti tes tersebut, hasil yang disodorkan kepada saya adalah ini:

Kemudian esoknya saya mengulang tes yang sama, dan hasilnya sama. Namun, kemungkinan besar, hasil yang sama pada percobaan kedua itu karena saya mengira-ngira apa pilihan jawaban saya sehari sebelumnya pada tiap-tiap foto dan sketsa.

Untuk mencoba “kuis” yang sama dapat mengelik ini: This Picture Storytelling Test Will Determine Your Personality

Beberapa bacaan mengenai kaitan antara psikoanalisis dan foto:

The Mind’s Eye: Freud and Photography by Bob Duggan

Photography and Psychoanalysis: The Development of Emotional Persuasion in Image Making

Sedangkan ini buku karya Sigmund Freud yang merupakan dasar studi bidang ini: The Interpretation of Dreams (terbit pertama kali pada 1899)

Adik saya main orang-orangan. Tanjung Priok (1997) • Reynold Sumayku