Otak Kiri, Otak Kanan

Kategori catatan kaki

“Permisi, Mas, numpang tanya. Gedung A di mana, ya?” Pertanyaan tentang arah seperti itu ternyata sedikit banyak dapat mengungkapkan apakah orang yang kita tanyai cenderung berpikir secara visual atau verbal dan mengenai hal ini terdapat pula kaitannya dengan fotografi.

Suatu laman di salah satu situs lembaga pendidikan yang berdiri di Malaysia dan beroperasi juga di Kanada, UCMAS Mental Math Schools, menggunakan perumpamaan semacam itu. Namun di sini saya modifikasi sedikit.

Jadi, seseorang yang kita tanyai di tepi jalan mungkin akan menunjukkan arah dengan seperti ini: “Dari sini, jalan ke arah selatan sejauh tiga kilometer kemudian belok kanan di Jalan Kenanga. Jalan lagi antara 300-400 meter lalu belok ke arah timur masuk ke Jalan Mawar. Gedung yang ketiga setelah taman.”

Seseorang lain mungkin menjawab seperti ini: “Dari sini nanti belok kanan (sambil menunjuk ke arah kanan) di tugu yang kelihatan berkilau di sebelah sana itu (menunjuk lagi). Nanti ketemu restoran padang dan tanah kosong yang luas (merentangkan kedua tangan), lalu di lampu merah ambil arah kanan (menunjuk ke kanan, mungkin sambil agak memiringkan badan). Lokasinya sebelum gerbang stasiun.”

Taman Prasasti (2011) • Reynold Sumayku

Pada 1960-an terdapat beberapa perkembangan penting terkait dengan persoalan pemaknaan visual. Dekade itu kajian semiotika pada lapangan visual kian maju. Kemudian, tiga buku karya Jacques Derrida populer dan menjadi dasar ide-ide dekonstruksionisme (buku Pada Suatu Foto halaman 94, 102, 331). Pada dekade yang sama, upaya perumusan definisi visual literacy sebagai suatu kompetensi pun menggeliat (halaman 103).

Roger Wolcott Sperry (1913-1994) bersumbangsih dari lapangan psikobiologi (psychobiology, biopsychology)—studi tentang dasar-dasar biologis yang melatari pikiran, emosi, serta proses mental. Sperry, awalnya mendalami sastra, kemudian menekuni psikologi dan zoologi. Pada 1960-an itulah ia menemukan bahwa pada otak manusia terdapat dua bagian yang memiliki cara dan fungsi berpikir yang berbeda.

Otak sisi kiri bersifat verbal. Kaitannya lebih erat dengan bahasa. Kepingan demi kepingan informasi dicerna secara analitis kemudian dirangkai untuk mendapatkan suatu informasi keseluruhan. Sedangkan otak bagian kanan bersifat visual. Melihat secara intuitif dan simultan—pertama-tama keseluruhan, baru menuju ke detail-detailnya.

Untuk informasi yang kira-kira sama, cara mencerna atau menyampaikannya berbeda. Pada contoh di awal naskah ini, penjawab pertama adalah tipe yang otak kirinya dominan. Sedangkan penjawab kedua cenderung otak sebelah kanannya yang lebih dominan.

Soal petunjuk arah di awal naskah ini merupakan contoh sederhana. Dalam benak saya yang awam, mungkin itu penyebabnya mengapa terkadang saya malah semakin bingung ketika seseorang lain memberikan petunjuk arah. Padahal, setelah alamat yang dicari akhirnya ketemu, kita tersadar bahwa sebenarnya ada cara dan petunjuk yang lebih sederhana.

Mungkin dia pengguna otak kanan sementara saya kiri. Atau sebaliknya.

Kemudian pemikiran saya beranjak ke hal ini: lalu bagaimana dengan pekerjaan penulis dan fotografer? Mungkinkah lebih bermanfaat jika seorang fotografer pada dasarnya adalah sosok yang dominan otak kanannya, sementara penulis lebih mudah bekerja apabila otak kirinya yang dominan?

Sementara itu, entah apakah ada kaitannya atau tidak, “hasil bacaan” terhadap suatu foto yang sama tidak menghasilkan pemahaman atau kesimpulan sama di antara seorang pemirsa dengan pemirsa lainnya. Paling tidak pada kesimpulan mereka yang pertama.—Reynold Sumayku


Catatan: Pembahasan mengenai fungsi dan cara kerja otak sebelah kiri dan otak sebelah kanan tadinya termasuk dalam buku Pada Suatu Foto, namun dihilangkan saat penyuntingan akhir.