Prelude: Tentang Kita pada Suatu Foto

Kategori catatan kaki

“Photography is love affair with life.”—Burk Uzzle

 

Oktober 2015, tiba-tiba saja saya bersemangat kembali untuk menyusun buku tentang fotografi. Suatu rencana yang mengemuka beberapa tahun sebelumnya namun terbengkalai.

Teringat segera, judul yang dahulu ingin saya gunakan adalah Stories. Tentang bercerita melalui medium fotografi, tema yang pertama kali menarik minat ketika mulai serius belajar memotret pada pertengahan 1990-an. Rencana awal, itu adalah buku fotografi yang memajang karya-karya saya. Namun, telah tebersit ide berbeda. Mengapa tidak membuat buku teks? Bukankah dulu saya terkadang menulis beberapa topik fotografi yang menarik minat pribadi?

Dalam konsep awal memang terdapat sejumlah teks singkat. Dalam konsep baru berupa buku teks ini tinggal mengembangkan. Saya mulai mewacanakan aneka tema, menggali lebih dalam. Ternyata, daya tarik berikut aneka romantismenya terus menuntut untuk diikuti. Alhasil, jadilah naskah-naskah dalam buku ini.

Kebetulan, saat bersamaan, antara Agustus-Oktober 2015, saya menjadi salah seorang juri dalam lomba penulisan cerita rakyat Nusantara yang diselenggarakan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lebih dari 3.000-an naskah peserta masuk untuk dilombakan. Mengejutkan, hampir sepuluh kali lipat dari perkiraan.

Hal yang menarik, banyak naskah dibuka dengan awalan “pada zaman dahulu kala.” Saat bercerita, orang memang terbiasa, dan memang paling mudah, menggunakan kalimat itu. Jika bukan itu, hampir otomatis “pada suatu ketika” atau “pada suatu hari.” Awalan klasik yang sekaligus berfungsi menyiapkan perhatian dan imajinasi pendengar untuk menerima tuturan kisah dari sang pencerita.

Demikianlah. Terinspirasi hal itu, dan dengan tujuan agar sederhana, spontan pula saya membuat keputusan. Judul paling tepat untuk buku ini seharusnya Pada Suatu Foto.

Sebagian kerangka berpikirnya adalah proses pembelajaran fotografi yang saya alami sendiri. Namun, saya bermaksud pula lebih banyak membagikan pemikiran para fotografer lain, kritikus, maupun cendekiawan. Kita meyakini, memikirkan, atau menyetujui sejumlah pokok dalam fotografi masa lalu dan sekarang, namun terkadang lupa asal-usulnya. Kita mengetahui sejumlah prinsip, filosofi, dan standar, namun mungkin kurang mengetahui alasan maupun proses perkembangannya. Lantaran pengetahuan dan keyakinan itu diwariskan “turun-temurun” begitu saja. Sering secara parsial.

Terdapat anggapan, pada masa sekarang hampir tidak ada hal baru yang dapat dibahas mengenai fotografi. Bukan lagi saatnya mewacanakan, namun saatnya semua berkarya. Bahkan sejak beberapa tahun lalu muncul pendapat bahwa fotografi telah mati, dalam alasan tertentu terkait romantisme.

Menurut para ahli, saat ini adalah zaman ketika berita merupakan hiburan. Foto-foto diedarkan antar-ponsel melalui beragam aplikasi. Swafoto. Semua orang memotret. Semua orang menikmati, mencari kepuasan dari bentuk visual. Termasuk bersenang-senang dengan kamera, kapan dan di mana saja. Bahkan saat terjadi musibah.

Salah satu karya pewarta foto Media Indonesia, Angga Yuniar menjelaskan budaya ini dengan jelas. Dua lelaki naik ke atap untuk menonton peristiwa kebakaran di Jakarta Barat. Salah seorang di antaranya bergaya dengan latar belakang asap pekat yang membubung sementara temannya memotret dengan kamera ponsel. Adegan itu difoto oleh Angga. Berjudul Narsis di Saat Kebakaran, foto itu dinobatkan sebagai Photo of the Year dalam Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2012.

“Inilah budaya visual. Ini tidak sekadar bagian kehidupan keseharian Anda, (tetapi) inilah kehidupan Anda,” sebut Nicholas Mirzoeff dalam What is Visual Culture? Orang mencari makna atau kepuasan dari peristiwa visual melalui antarmuka (interface) berteknologi visual. Benda dan peralatan apapun yang dirancang untuk dilihat dan dinikmati, serta meningkatkan visi alamiah. Mulai dari lukisan cat minyak hingga televisi dan Internet.

Dalam “banjir foto” dan penggunaan kamera di mana-mana, yang kurang adalah pembahasan pemikiran di balik semuanya. Pada sebagian “orang lama” terdapat kegelisahan. Pada generasi baru terdapat kegairahan membuat foto. Sebagian dari yang baru ini mengatakan, literatur tentang aneka pemikiran yang pernah dan masih berkembang dalam dunia fotografi kurang tersebar luas di Indonesia. Terutama yang mewacanakan kembali dalam budaya kini.

Kepada salah satu grup bertema foto jurnalistik dalam aplikasi percakapan WhatsApp, iseng-iseng saya pernah bertanya. Seandainya akan ada satu buku fotografi lagi beredar, topik apakah yang sekiranya kita butuhkan saat ini? Sejumlah pendapat dibagikan. Salah seorang mengatakan, “Semua hal sudah difoto. Mulai bayi masih di dalam perut hingga luar angkasa. Begitu pula cara membuatnya. Tapi di tengah masyarakat kita belum terlalu banyak dibahas bagaimana memaknainya.” Seorang lainnya menyahut: “Visual literacy.”

Pada beberapa tahun ini semakin marak acara diskusi lisan, gelar wicara, presentasi bermanfaat, namun terdapat batasan waktu dan tempat. Aneka forum diskusi foto di Internet tersedia, namun terlalu cepat bergerak dan berpindah fokus. Sebagian diskusi pun hanya dapat diakses oleh anggota. Tidak semua orang ingin atau berkesempatan menjadi fotografer profesional. Tidak semua orang berbakat menjadi seniman foto, pengajar, dan sebagainya. Tidak semua peminat fotografi mampu atau berkesempatan memasuki sekolah fotografi. Namun, pada kenyataannya, kini semua orang memotret. Semua orang, dalam level dan alasan masing-masing, menuangkan ekspresi melalui foto.

Karena itu, saya berpendapat, dibutuhkan pula tulisan-tulisan mendalam, yang dapat diakses oleh kalangan lebih luas. Untuk dipikirkan dan direnungkan kemudian diperbaiki, disempurnakan demi kebaikan bersama. Terkesan klise, namun pada kenyataannya penulis foto dan kritikus sangat kurang dibanding praktisi. Sebagian besar penulis dan kritikus foto yang saat ini masih atau terkadang aktif, sebagian besar memang terbiasa menulis. Atau, tadinya memang wartawan tulis.

Pada waktu itu saya bersyukur karena pendapat beberapa fotografer tersebut cocok dengan tema yang saya pikirkan. Walaupun zaman sedang berubah, aneka pemikiran dalam fotografi dan seni visual tidak pernah bergeser relevansinya. Pada 1936, misalnya, László Moholy-Nagy (1895-1946) sudah mengatakan, “Mereka yang buta aksara pada masa depan (adalah yang) akan tidak mengetahui (bahwa) penggunaan kamera dan pena serupa.”

Masa depan yang ia maksudkan pastilah sekarang. Bagaimanapun, tentu isi buku ini bukanlah kesimpulan-kesimpulan untuk pembenaran apapun. Buku ini dimaksudkan sebagai pembuka diskusi. Dikemukakan oleh penulis yang juga terus berusaha belajar.

Saya bermaksud lebih banyak membahas kasus-kasus pemikiran di dunia internasional, lalu menjadikannya cermin bagi kita di sini, termasuk cermin saya sendiri. Ada ujar-ujar cukup sering dikemukakan, yakni fotografi bukanlah semata persoalan subjek atau objek, melainkan berfungsi sebagai cermin untuk mempertanyakan diri sendiri. Semoga ada sedikit-sedikit bahan refleksi dari sini.

Karena pernah menjadi wartawan maka saya berusaha menulis dengan pendekatan jurnalistik. Banyak foto terkenal sepanjang sejarah fotografi dibahas namun tidak ditampilkan. Ada baiknya, jika tertarik lebih jauh, sidang pembaca menelusuri foto-foto tersebut. Agar semakin memahami konteks bahasannya. Pada masa sekarang, foto-foto itu dapat dilihat di Internet. Saya juga ingin menyemangati pembaca agar menggali lebih mendalam. Membuat koreksi, diskusi. Semakin baik pula apabila membagikan pemikirannya kepada khalayak luas sesama penyuka bahasan fotografi.

Buku ini sendiri mendapat banyak masukan dan saran berharga dari Seno Gumira Ajidarma dan Yudhi Soerjoatmodjo. Di tengah segala kesibukan masing-masing, keduanya tetap bersedia “memeriksa” aneka naskah ini ketika masih berupa draf kasar.

Yudhi menyarankan agar contoh-contoh kasus sebaiknya juga menampilkan foto dan fotografer Indonesia. Saya kemudian mengakomodirnya sekilas-sekilas. Sejarah dan perkembangan fotografi di Indonesia cukup banyak dibahas oleh para praktisi dan pengamat pendahulu, misalnya oleh Yudhi dalam The Challenge of Space: Photography in Indonesia, 1841-1999 atau Beyond Pictorialism: Photography in Modern Indonesia. Adapun mengenai perenungan hakikat foto dan kaitannya dengan pemirsa, buku karya Seno, Kisah Mata: Fotografi Antara Dua Subyek: Perbincangan Tentang Ada, menurut saya tetap wajib menjadi bacaan anak-anak muda.

Kepada saya, Seno menyarankan agar penulisan buku ini dipoles lagi, agar “terbaca” dan “tidak mengerikan.” Seno pula yang menyarankan agar foto-foto disertakan, tidak hanya menjadi buku teks seperti niat semula. Akhirnya, saya kembali menyertakan foto walaupun tidak mungkin semua dari yang dibahas.

Akhir kata, terima kasih kepada semua teman dan pembaca. Walaupun berbeda genre, pemikiran, maupun “ideologi,” satu kesamaan tetap menyatukan, sampai akhir. Itulah yang pernah dikemukakan oleh Alfred Stieglitz (1864-1946) dalam perjuangannya di awal abad ke-20 dan kembali ditegaskan oleh Minor White (1908–1976) pada 1963:

Ketika kita berbicara mengenai tren, kita melibatkan diri kita dengan perubahan, dengan pergerakan dalam gaya dari sini menuju ke sana dan kembali lagi. Tren adalah bagian luar, namun kita dapat tersesat karena terlalu buta, terlibat kepadanya. Inti dari perubahan hal lain. Jika kita harus memberi nama kepada inti ini, dan saya kira kita melakukannya, satu nama adalah Spirit.

Pada Suatu FotoDemikianlah. Pada suatu foto terkandung ribuan kata. Pada suatu foto terdapat fakta. Pada suatu foto tersirat tanda dan makna. Pada suatu foto tersimpan kenangan. Pada suatu foto pula imajinasi tertuangkan. Pada suatu foto tampak suatu kedalaman. Pada suatu foto tebersit kritikan. Pada suatu foto pula hasrat seni terlampiaskan. Pada suatu foto dapat terkandung apa saja.

Semoga judul yang sangat sederhana ini tak menyurutkan minat Anda untuk menyimak. Selamat membaca dan mari berdiskusi. Semoga dapat memberikan manfaat, yang terkecil sekalipun.

Karena kita semua ada pada suatu foto.