Ikan Asin dan “Rasa Foto”

Ketika buku Pada Suatu Foto beredar, seorang sahabat saya sejak masa kecil termasuk yang paling antusias untuk membeli dan membacanya. Padahal, saya malu karena cetakan dan pemotongan kertas pada buku gelombang pertama yang edar pada awal Oktober 2016 buruk.

Ia tidak mempersoalkan kekurangan tersebut. Salah satu dari yang ia katakan adalah bahwa dirinya ingat betul suatu kejadian kecil ketika kami remaja. Ia bilang, “Gue ingat sekali, dulu itu gue bilang foto ikan asin yang lo buat bagus. Tapi lo bilang, enggak bagus. Gue tanya, kenapa? Lo bilang, ‘karena niatnya, foto ikan asin itu memang kelihatan asin waktu orang melihat fotonya.”

Pada Suatu FotoSeandainya obrolan masa remaja itu teringat kembali pada saat penyusunan buku Pada Suatu Foto, sudah tentu akan saya masukkan untuk dibahas. Ini mungkin ada kaitannya dengan “rasa dalam foto”. Mood yang sengaja dihadirkan oleh seorang fotografer kepada pemirsanya melalui perantaraan foto.

Roland Barthes termasuk cendekiawan yang pertama kali mengulas bahwa foto produk yang diperuntukkan sebagai bahan iklan/komersial memang dibuat untuk menggugah pemaknaan, kesan, dan rasa tertentu. (Pada Suatu Foto halaman 134-135).

Sekarang saya kembali bertanya-tanya. Jadi bagaimana, ya, supaya foto yang menampilkan ikan asin bisa menggugah “rasa asin” dalam diri pemirsa?

Pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya kelar. Entah di mana pula itu film negatif foto sekarang.

 

error: dibutuhkan izin untuk menyalin