Kualitas Cetak & Foto di Halaman 226

Kategori catatan kaki

Pada cetakan buku yang beredar pada Januari 2017 masih terdapat kesalahan-kesalahan kecil terkait pemotongan kertas, halaman daftar isi bagian kanan yang menghilang garisnya (halaman VII), serta satu tampilan foto pada halaman 226. Bagaimanapun, secara keseluruhan kualitas produksinya sudah jauh meningkat dibanding gelombang cetak pertama yang bukunya beredar pada akhir September dan awal Oktober 2016.

Font dan tata letak pada buku yang beredar pada Januari 2017 telah mengikuti fail Pdf dari penyusun buku. Kemudian, jenis serta gramatur kertas dan kualitas cetaknya cukup memenuhi harapan.

Secara keseluruhan, foto-foto dicetak jauh lebih terang dibanding buku yang edar awal Oktober 2016. Sepertinya hal ini karena semua foto “diangkat” atau dibuat lebih terang bagian shadow-nya. Sebenarnya, saya tidak meminta agar foto-foto dalam cetakan perbaikan ini dibuat lebih terang. Keinginannya adalah foto-foto dalam buku ini dicetak seperti pada gelombang pertama yang edar Oktober 2016 (agak gelap). Target dalam cetakan perbaikan: hanya jenis dan ukuran font serta pemotongan kertasnya yang diperbaiki (mengikuti fail Pdf dari penyusun buku dengan bleed tiga milimeter).

Bagaimanapun, kualitas cetak buku yang edar Januari 2017 ini sudah jauh meningkat dibanding yang edar awal Oktober 2016. Jadi, upaya rekanan penerbit saya untuk menebus kekeliruan cetakan perlu dihargai.

Sampel buku edisi cetak perbaikan ini saya terima pada tanggal 25 November 2016. Approval kemudian diberikan dengan catatan agar dilakukan perbaikan minor, seperti dalam email yang dibuatkan printscreen-nya berikut ini:

Ternyata, pada gelombang buku yang beredar Januari 2017 tampak bahwa perbaikan-perbaikan itu tidak dilakukan. Buat saya tidak menjadi masalah besar mengingat hasilnya sudah jauh lebih rapi dibanding gelombang buku yang beredar pada awal Oktober 2016.

Mengenai satu foto yang keliru cetak, pada halaman 226, itu adalah kesalahan saya sendiri dalam proses penyesuaian/adjustment. Garis berbentuk kotak yang tampak pada serangga itu, kalau tidak salah ingat, dahulu dibuat untuk mengeluarkan detail pada bagian bawah ekor, juga untuk menyempurnakan kontras. Setelah melakukan penyesuaian demikian, saya lupa, namun fail foto itu tetap digunakan untuk berbagai keperluan.

Foto dengan penyesuaian seperti itu (namun versi warna) juga yang digunakan untuk mendampingi artikel wawancara dengan saya di majalah Digital Camera Indonesia edisi Oktober 2016. Kemudian saya promosikan di Twitter dan Facebook pada 6 Oktober 2016. Garis kotaknya tidak kelihatan karena pencetakan di majalah tersebut sesuai keinginan saya (tingkat eksposur seharusnya mirip file Raw). Sebelumnya, foto dengan penyesuaian yang sama juga dapat ditemukan di agensi Alamy. Saya titipkan di sana sejak 2015 kalau tidak salah.

Pencetakan foto dalam buku Pada Suatu Foto yang edar Januari 2017 sebenarnya diharapkan tetap seperti pada buku gelombang pertama (agak gelap dan shadow tidak dibuat terang). Namun, ternyata foto-fotonya dibuat lebih terang dengan mengangkat semua bagian shadow. Alhasil, garis kotak tersebut pun tampak. Saya tidak menyalahkan inisiatif rekanan penerbit dan rekanan percetakan mereka.

Adapun fail Raw foto itu seperti  di bawah ini (printscreen). Bisa diperbesar hingga 100 persen dengan mengekliknya:

Pyrops-raw-printscreen

Dari fail-fail tersebut, yang saya gunakan untuk versi horizontal adalah fail nomor 8388. Begini fotonya ketika baru dibuka dengan software:

Pyrops-8388-raw-lightroom-printscreen

Di bawah ini fail Raw 8388 yang mendapat penyesuaian eksposur dinaikkan satu stop dan shadow diangkat menjadi lebih terang dengan nilai 100 persen. Entah kenapa muncul semacam kilauan pada serangga dan perbedaan tone pada kulit pohon di belakangnya.

Di bawah ini versi fail yang sudah disesuaikan (di-adjust) dengan software lain. Yang telah dilakukan: saya membuat kotak di sekeliling serangga untuk mengurangi highlight ditambah sodetan burn di antara dua kepala serangga (untuk memperbaiki perbedaan tone pada kulit pohon) serta sedikit mengangkat bagian shadow pada ekor dengan dodge. Kemudian level eksposur-nya dikembalikan, dan kontras ditambah. Crop, lalu terakhir mengkonversinya ke hitam putih. Sisi terpanjang fail foto ini untuk buku Pada Suatu Foto adalah 2800 piksel pada 300 DPI.

Kemudian, khusus untuk pembahasan ini, fail tersebut saya buka lagi dengan software satunya dengan sengaja kembali diterangkan bagian shadow-nya sebanyak 59 persen. Garis kotak di sekeliling serangga dan sodetan burn di antara dua kepala serangga kembali terlihat:

Penampakan pada fail Pdf seperti ini, yang dicetak tanpa perubahan pada gelombang buku yang edar Oktober 2016:

hlm226pdfprintscreenversicetakpertama

Sedangkan yang di bawah ini adalah hasil cetak gelombang buku yang edar pada Januari 2017—setelah rekanan penerbit/percetakan berinisiatif membuat bagian shadow-nya lebih terang:

halaman226

Pelajaran yang dapat saya tarik: jangan terlalu iseng, jangan terlalu “gatal” dengan fail foto yang kalau tidak diapa-apakan pun sebenarnya sudah cukup baik. Kemudian, tidak semua foto perlu dimaksimalkan detail dan kontrasnya. Karena kita tidak pernah tahu, foto tersebut kelak akan dicetak seperti apa oleh pihak lain, sementara kita sendiri sudah lupa bagaimana dulu saat processing.