Realisme adalah segala upaya dalam seni untuk menampilkan objek secara sebenar dan seakurat mungkin, menghindari teknik artifisial dan elemen artistik. Kelahiran alat-alat fotografi pada abad ke-19 merupakan salah satu buah dari upaya ini. Piktorialisme berkembang sejak menjelang akhir abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20. Berlawanan dengan pembuatan foto secara umum yakni langsung dan tanpa efek (straight photography), piktorialisme menggunakan apapun yang mungkin dilakukan untuk mencapai tingkat estetika tertentu. Henry Peach Robinson menerbitkan buku berjudul Pictorial Effect in Photography: Being Hints On Composition And Chiaroscuro For…Lanjutkan Membaca “Aliran Seni dan Gerakan Pemikiran yang Memengaruhi Fotografi”

Penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Seno Gumira Ajidarma, Yudhi Soerjoatmodjo, Taufan Wijaya, Ng Swan Ti, Rony Zakaria, Safir Makki, Pat Morrow, J. Paul Getty Museum, Bronx Documentary Center, Princeton University Art Museum & Trustees of Princeton University, Henry C. Widjaja, Joanes Prahara, Farid Wong, Josephine Rumondor, Edy Purnomo, Ahmad Fauzan, Purwo Subagyo dan tim National Geographic-Indonesia dan Traveler, Iwan Ipul dan teman-teman ex-tabloid Soccer, Des Syafrizal dan rekan-rekan eks Galaspala SMA-13, Juferdy dan rekan-rekan Mapala UI, serta pihak-pihak lain yang tak dapat disebutkan…Lanjutkan Membaca “Terima Kasih”

Salah satu hal menarik dari diskusi buku Pada Suatu Foto di Passiflora Cafe kemarin (Minggu 5/2) adalah bahasan bahwa “semiotika bukan satu-satunya kajian bermanfaat dalam pengembangan kompetensi visual literacy.” Memang benar demikian. Dalam buku ini, perspektif dari studi tentang tanda hanyalah sebagian materi pembahasan. Terdapat berbagai kilasan kajian pengetahuan di bidang lain, yang juga ikut menentukan mode ekspresi fotografer, sekaligus akan ikut membentuk kompetensi visual literacy pada audiens maupun praktisinya. Dalam buku Pada Suatu Foto, di antaranya dibahas contoh pendekatan sejarah, budaya, seni, linguistik, maupun sekilas…Lanjutkan Membaca “Psikoanalisis dan Karya Visual”

The Family of Man adalah titel dari megapameran-foto yang dikurasi oleh Edward Steichen—waktu itu direktur Museum of Modern Art (New York). Pameran itu menampilkan 503 karya foto lebih dari 270 fotografer (menurut situs MoMa tepatnya 273). Pertama kali dibuka pada Januari 1955 di New York kemudian dibawa berkeliling ke 88 tempat di 37 negara. Fotografer yang karyanya ditampilkan di antaranya Elliott Erwitt, Garry Winogrand, Dorothea Lange, atau Bill Brandt. Adapun foto karya Henri Cartier-Bresson yang dipajang di antaranya adalah “Sumatra, Indonesia (1950)” yang secara harfiah menampilkan sosok…Lanjutkan Membaca “Keluarga Manusia”

Visual literacy adalah suatu tingkat kompetensi. Semua orang memiliki kompetensi ini sejak bayi. Namun, kompetensi tiap-tiap orang sangat mungkin akan tumbuh dalam tingkatan berbeda antara satu dari yang lain. Tergantung kepada pengetahuan, pengalaman, tradisi dan budaya dalam kelompok masyarakatnya. Lantas dipengaruhi pula oleh faktor emosi orang tersebut, pada waktu kompetensi tersebut digunakannya. Seberapa banyak atau seberapa tinggi kita memerlukan kompetensi ini? Tentu, tergantung kebutuhan dan kepentingan tiap orang. Namun, bayangkan betapa tidak bergunanya rambu lalu lintas, marka jalan, dan aneka tanda serta simbol dalam masyarakat—apabila orang tidak paham…Lanjutkan Membaca “Sekilas-Sekilas Visual Literacy

Mengenai tujuan pembuatan buku ini tentu dapat dibaca di bagian Prelude (Tentang Kita pada Suatu Foto, buku Pada Suatu Foto halaman IX-XIV). Namun, terdapat sejumlah latar yang akhirnya tidak jadi dimasukkan. Dihilangkan saat penyuntingan akhir. Di antaranya topik di bawah ini. Selain Seno Gumira Ajidarma, salah seorang sosok lain yang masuk daftar untuk dimintai komentar, saran, dan kritiknya adalah Yudhi Soerjoarmodjo—mantan praktisi jurnalistik, kurator foto, pengamat dan kritikus seni visual. Untunglah, di tengah segala kesibukannya, Yudhi—seperti halnya Seno—menyahut dan bersedia menyimak draf kasar buku ini. Selang beberapa waktu, begitu…Lanjutkan Membaca ““Apakah Masih Dibicarakan?””

“Permisi, Mas, numpang tanya. Gedung A di mana, ya?” Pertanyaan tentang arah seperti itu ternyata sedikit banyak dapat mengungkapkan apakah orang yang kita tanyai cenderung berpikir secara visual atau verbal dan mengenai hal ini terdapat pula kaitannya dengan fotografi. Suatu laman di salah satu situs lembaga pendidikan yang berdiri di Malaysia dan beroperasi juga di Kanada, UCMAS Mental Math Schools, menggunakan perumpamaan semacam itu. Namun di sini saya modifikasi sedikit. Jadi, seseorang yang kita tanyai di tepi jalan mungkin akan menunjukkan arah dengan seperti ini: “Dari sini,…Lanjutkan Membaca “Otak Kiri, Otak Kanan”

Ketika buku Pada Suatu Foto beredar, seorang sahabat saya sejak masa kecil termasuk yang paling antusias untuk membeli dan membacanya. Padahal, saya malu karena cetakan dan pemotongan kertas pada buku gelombang pertama yang edar pada awal Oktober 2016 buruk. Ia tidak mempersoalkan kekurangan tersebut. Salah satu dari yang ia katakan adalah bahwa dirinya ingat betul suatu kejadian kecil ketika kami remaja. Ia bilang, “Gue ingat sekali, dulu itu gue bilang foto ikan asin yang lo buat bagus. Tapi lo bilang, enggak bagus. Gue tanya, kenapa? Lo bilang, ‘karena niatnya, foto ikan…Lanjutkan Membaca “Ikan Asin dan “Rasa Foto””

Saat mengerjakan pemotretan untuk majalah Time, fotografer Jodi Bieber mengatakan, ia memberikan “sudut pandang sejarah” (bagi pemirsa). Yang dimaksud adalah ketika ia membuat potret Bibi Aisha, gadis yang dimutilasi hidungnya di Afghanistan. Adapun sudut pandang sejarah maksudnya adalah ingatan kepada foto Afghan Girl karya Steve McCurry, untuk diperbandingkan dengan sosok Aisha. Namun, Bieber tidak memotret dari depan, melainkan dari samping (buku Pada Suatu Foto—Cerita dan Filosofi dalam Fotografi halaman 49) Foto karya McCurry dapat dilihat di sini: Photographer Steve McCurry tells the story of shooting…Lanjutkan Membaca “Sudut Pandang Sejarah”

Dalam tradisi Katolik, pietà adalah mahakarya Michelangelo yang dikerjakan antara 1498-1499 dan kini disimpan di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Beberapa foto yang diangkat dalam pembahasan buku Pada Suatu Foto: Cerita dan Filosofi dalam Fotografi (cetakan pertama September 2016) pada halaman 46-47: Pieta karya Michelangelo di situs ItalianRenaissance.org James Nachtwey memotret seorang anak penderita TBC di Kamboja untuk Global Health Committee Karya Samuel Aranda di World Press Photo 2012  Karya Eugene W. Smith dalam kisah Minamata 

Pada cetakan buku yang beredar pada Januari 2017 masih terdapat kesalahan-kesalahan kecil terkait pemotongan kertas, halaman daftar isi bagian kanan yang menghilang garisnya (halaman VII), serta satu tampilan foto pada halaman 226. Bagaimanapun, secara keseluruhan kualitas produksinya sudah jauh meningkat dibanding gelombang cetak pertama yang bukunya beredar pada akhir September dan awal Oktober 2016. Font dan tata letak pada buku yang beredar pada Januari 2017 telah mengikuti fail Pdf dari penyusun buku. Kemudian, jenis serta gramatur kertas dan kualitas cetaknya cukup memenuhi harapan. Secara keseluruhan, foto-foto dicetak jauh lebih terang dibanding buku…Lanjutkan Membaca “Kualitas Cetak & Foto di Halaman 226”

“Photography is love affair with life.”—Burk Uzzle   Oktober 2015, tiba-tiba saja saya bersemangat kembali untuk menyusun buku tentang fotografi. Suatu rencana yang mengemuka beberapa tahun sebelumnya namun terbengkalai. Teringat segera, judul yang dahulu ingin saya gunakan adalah Stories. Tentang bercerita melalui medium fotografi, tema yang pertama kali menarik minat ketika mulai serius belajar memotret pada pertengahan 1990-an. Rencana awal, itu adalah buku fotografi yang memajang karya-karya saya. Namun, telah tebersit ide berbeda. Mengapa tidak membuat buku teks? Bukankah dulu saya terkadang menulis beberapa topik…Lanjutkan Membaca “Prelude: Tentang Kita pada Suatu Foto”

Fotografer yang sekaligus editor foto dan penulis dengan pengalaman 20 tahun bekerja untuk media massa menyusun 19 esai dalam satu buku. Membahas aneka cerita dan filosofi dalam dunia fotografi, kunci dalam seni melihat, hingga analisis semiotika dan ihwal visual literacy. Merenungkan kembali hakikat dan semangat yang membentuk seni foto, foto jurnalistik, fotografi jalanan, perjalanan, alam liar, esai foto, serta dokumenter dalam ledakan budaya visual Zaman Internet. Seraya mengangkat foto-foto ikonis internasional, pemenang penghargaan, serta karya fotografer Indonesia, buku ini mendiskusikan foto sebagai suatu sistem penyuntingan…Lanjutkan Membaca “Sinopsis Buku”