“Apakah Masih Dibicarakan?”

Kategori catatan kaki

Mengenai tujuan pembuatan buku ini tentu dapat dibaca di bagian Prelude (Tentang Kita pada Suatu Foto, buku Pada Suatu Foto halaman IX-XIV). Namun, terdapat sejumlah latar yang akhirnya tidak jadi dimasukkan. Dihilangkan saat penyuntingan akhir. Di antaranya topik di bawah ini.

Selain Seno Gumira Ajidarma, salah seorang sosok lain yang masuk daftar untuk dimintai komentar, saran, dan kritiknya adalah Yudhi Soerjoarmodjo—mantan praktisi jurnalistik, kurator foto, pengamat dan kritikus seni visual. Untunglah, di tengah segala kesibukannya, Yudhi—seperti halnya Seno—menyahut dan bersedia menyimak draf kasar buku ini.

Selang beberapa waktu, begitu telepon dengan Yudhi tersambung, diskusi awal setelah apa kabar dan sebagainya adalah, “Rey, aku punya beberapa pertanyaan. Pertama, apakah buku ini bacaan untuk fotografer? Kemudian, apakah topik-topik ini masih dibicarakan, masih dibutuhkan?”

Saya menjawab, “Menurutku masih dibutuhkan, karena dewasa ini ‘kan bla..bla.. bla… Bahwa penyusun buku yang membahas topik-topik fotografi seperti ini tidak terlalu banyak di Indonesia.”

Bahwa yang punya pengetahuan lebih dan mendalam mengenai hal-hal yang dibahas ini pun relatif terbatas, setidaknya jika dibandingkan dengan lingkaran besar para penggiat, penghobi fotografi, penikmat foto, pengguna kamera ponsel, pengguna media sosial berbasis visual, plus para penyuka topik komunikasi visual dan persoalan visual literacymedia literacy, maupun semiotika lapangan visual.

Menurut para cendekiawan, kritikus, dan pengamat visual di dunia internasional, kita sekarang hidup dalam budaya visual. Masyarakat visual.

Di Indonesia, belum terlalu banyak buku yang mengangkat topik di luar persoalan produksi foto, penyajian, serta kiat promosinya. Jadi, niat awal penyusunan buku ini adalah untuk ikut mengisi sekelumit kekosongan. Supaya yang belum paham jadi lebih paham. Yang sudah paham tapi agak lupa teringat kembali. Yang belum baca ulasan-ulasan Susan Sontag atau John Berger—ini misalnya saja—tidak buta sama sekali ketika mendengarkan pembahasan dari yang sudah pernah membaca. Dan sebagainya.

Kemudian, saya jelaskan pula kepada Yudhi bahwa buku Pada Suatu Foto pada dasarnya tidak khusus ditujukan untuk fotografer profesional. Ada anggapan bahwa di antara para fotografer profesional tidak terlalu banyak yang suka membaca. Kendati demikian, menurut saya, di antara para fotografer profesional, apalagi yang lulusan jurnalistik atau ilmu komunikasi, pasti telah memiliki pengetahuan terkait. Kemudian, yang tadinya tidak memiliki latar pengetahuan terkait pasti telah ikut mengetahuinya pula sebagian. Sekurang-kurangnya dari pergaulan dengan sesama profesional yang lebih berwawasan.

Buku Pada Suatu Foto memang dimaksudkan untuk kalangan yang lebih luas. Bisa untuk siapa saja yang tertarik. Perlu dicatat bahwa “kalangan lebih luas” mengacu kepada keragaman latar belakang calon pembaca. Tentu tidak serta-merta terkait oplah.

Saya beruntung memperoleh saran dan masukan dari Seno dan Yudhi. Bagaimanapun, ada satu hal dari perbincangan, yang sangat disarankan Yudhi, yang tidak saya lakukan secara penuh. Saran Yudhi itu adalah, “Seharusnya ada lebih banyak kritik.”—Reynold Sumayku