Aliran Seni dan Gerakan Pemikiran yang Memengaruhi Fotografi

Kategori catatan kaki

Realisme adalah segala upaya dalam seni untuk menampilkan objek secara sebenar dan seakurat mungkin, menghindari teknik artifisial dan elemen artistik. Kelahiran alat-alat fotografi pada abad ke-19 merupakan salah satu buah dari upaya ini.

Piktorialisme berkembang sejak menjelang akhir abad ke-19 hingga permulaan abad ke-20. Berlawanan dengan pembuatan foto secara umum yakni langsung dan tanpa efek (straight photography), piktorialisme menggunakan apapun yang mungkin dilakukan untuk mencapai tingkat estetika tertentu. Henry Peach Robinson menerbitkan buku berjudul Pictorial Effect in Photography: Being Hints On Composition And Chiaroscuro For Photographers pada 1869. Kali pertama istilah piktorial digunakan pada foto. Awalnya, aliran ini berciri pada penyajian gambar soft-focus pada potret. Terkadang, menampilkan pula efek pencahayaan pada foto luar ruangan, sehingga terkadang juga dianggap impresionisme.

Impresionisme adalah aliran seni yang bertujuan memberikan nuansa dan kesan tertentu dengan efek pencahayaan. Namun, terkadang tak sengaja dipertukarkan dengan naturalisme dan piktorialisme. Berkembang pada seni lukis abad ke-19, aliran ini kemudian juga diadopsi ke fotografi.

Naturalisme bukanlah aliran seni untuk menampilkan kesan natural pada foto. Melainkan, menggunakan straight photography sebagai medium seni. Fine art dari foto langsung, tanpa penggabungan dan aneka efek. Yang dilawan adalah piktorialisme dan impresionisme. Peter Henry Emerson (1856-1936) adalah pelopornya di Inggris, melalui buku Naturalistic Photography for Students of the Art (1889).

Modernisme sebenarnya bukan aliran seni, melainkan gerakan pemikiran yang tumbuh pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mulai dari filosofi, bertransformasi ke banyak bidang peradaban Barat, akhirnya melahirkan berbagai isme seni baru. Pada intinya, gerakan ini menolak standar dan batas yang telah mapan sebelumnya. Di Amerika, perjuangan pemikiran ini dalam fotografi dilakukan Alfred Stieglitz dan gerakan Photo-Secession. Stieglitz mendapat pengaruh dari Emerson. Namun, secara luas, pemikiran modernis kemudian melahirkan beberapa aliran seni—di antaranya futurisme, ekspresionisme, kubisme, surealisme, dan lain-lain.

Ekspresionisme pada dasarnya menentang realisme, namun wujudnya sulit dikenali karena kerap tertukar atau bertindihan dengan futurisme, surealisme, dan lainnya. Dalam seni lukis, aliran ini menampilkan objek semata dari sudut pandang subjektif sang artis. Terkadang menyajikan distorsi demi efek emosional tertentu. Tujuannya bukan bentuk fisik, melainkan pemaknaan emosional.

Futurisme awalnya berkembang di Italia namun ternyata ditemukan juga di beberapa negara Eropa lain pada awal abad ke-20. Menampilkan hal-hal yang saat itu futuristik, terutama konsep dinamika “metropolis.” Wujudnya sukar dikenali dengan mata telanjang—bukan bentuk seni, melainkan semangatnya.

Fotodinamisme (photodynamism) termasuk futurisme, berfokus pada usaha menangkap energi dan perasaan dari gerakan yang saat itu sangat radikal. Bermula dari konsep Neo-Impressionism, para futuris ber­usaha meleburkan mata mekanik kamera ke dalam perwujudan seni. Ciri photodynamism adalah efek gerak yang kuat dan blur, membentuk jejak gerakan. Anton Giulio Bragaglia dan saudaranya, Arturo, adalah pionir di Italia. Foto-fotonya antara lain The Smoker (1911) karya Anton dan The Anti-Naturalistic Portrait (1930) karya Arturo. Konsep ini berbeda dari tujuan alat chronophotography (1868) yang memungkinkan foto-foto gerakan yang dibuat dengan kecepatan rana tinggi dan berulang (1/1000 detik, 12 foto per detik)—misalnya Flight of the Pelican (1883) karya Etienne-Jules Marey.

Kubisme menganalisis objek, kemudian “menceraiberaikannya” untuk disusun kembali dengan pendekatan abstrak. Pablo Picasso dan Georges Braque adalah pionir. Artis menampilkan objek tidak hanya dari satu sudut pandang tertentu. Kubisme sulit ditampilkan dengan straight photography, namun Paul Strand dianggap terpengaruh aliran ini. Laszlo Moholy-Nagy, juga seorang pelukis, yang benar-benar melihat dalam konsep ini. Kemudian, David Hockney merakit foto dari beberapa foto yang tumpang tindih—kolase atau montase. Teknik joiner atau panography ini dapat dilakukan secara manual, dari beberapa cetakan foto, atau dengan perangkat lunak digital.

Dadaisme atau Dada merupakan gerakan seni konseptual pertama yang tidak bertujuan untuk mencapai estetika yang menyenangkan. Seniman membuat karya yang mengganggu kepekaan borjuis. Juga menghasilkan pertanyaan-pertanyaan mengenai masyarakat, peran artis, dan tujuan seni. Objek biasanya adalah benda dari sehari-hari yang diberi sentuhan manipulasi, kemudian ditampilkan sebagai karya seni. Dada mulai meredup sejak kebangkitan surealisme. Bagaimanapun, Dadaisme sulit diadopsi oleh straight photography.

Surealisme dimulai pada 1920-an, dengan tujuan untuk menemukan solusi dari sifat kontradiktif mimpi dan kenyataan. Dalam fotografi, gerakan budaya ini diterapkan melalui konsep dan penyajian foto yang aneh, agak menentang logika. Salah seorang yang dianggap pionir surealisme dalam fotografi adalah Dora Maar (1907-1997). Kemudian juga ada Man Ray (1890-1976).

Post-modernisme adalah gerakan pemikiran yang berkembang setelah modernisme. Di Barat, pemikiran ini berkembang mulai 1960-an. Berbeda dari modernisme yang menekankan diri pada modernitas dan digerakkan sejak awal abad ke-20, pemikiran post-modernisme tidak mengacu ke paham tunggal. Ia justru menghargai aneka perbedaan dan tidak berusaha mengupayakan titik temu. Dalam seni, penganut post-modernisme menantang kepercayaan bahwa tujuan seni harus terkait dengan teori. Karya-karya dalam pemikiran ini beragam dan tak ada yang terbatas oleh disiplin tertentu. Dalam fotografi, Andy Warhol (1928-1987) disebut-sebut salah seorang pionir—meruntuhkan batas fine art dan desain.

Konstruktivisme merupakan pemikiran dalam seni dan arsitektur yang menolak kebebasan seni. Para seniman dalam gerakan ini tidak menyukai ide yang abstrak. Mereka berfilosofi, seni seharusnya hasil dari ide yang jelas dan konkret. Berkembang di Rusia, filosofi ini bertujuan membentuk seni sebagai praktik bertujuan sosial. Dalam era modern, konstruktivisme melahirkan gerakan Bauhaus dan De Stijl. Dalam fotografi, konstruktivisme yang melahirkan teknik photomontage. Dynamic City dan Lenin and Electrification (1919-20) karya Gustav Klutsis adalah contoh-contoh pertama montase foto—kemudian juga banyak dipraktikkan dalam Dadaisme. Filofosi konstruktivisme juga mengembangkan ciri berupa penggunaan cahaya abstrak, kontras, dan tepian objek yang tajam. László Moholy-Nagy tergolong terkemuka sebagai pelaku konstruktivisme.

Dekonstruksionisme merupakan suatu pemikiran kritis post-modernis­me dalam hubungan antara teks dan makna. Karya-karya Jacques Derrida dipandang sebagai dasar. Dalam fotografi, karya fotografer dan pembuat film asal Belgia, Marie-Françoise Plissart, dianggap salah satu yang pertama secara langsung menghubungkan pemikiran dekonstruksi dengan fotografi. Pada 1985, Plissart menerbitkan buku Droit de Regards yang menyajikan sekuen foto-foto hitam-putih beserta naskah karya Jacques Derrida. Foto-foto itu, jika foto adalah sistem bahasa, disusun sesuai “tata bahasa visual”: montase, pengurutan, penempatan, sudut pandang, dan sebagainya. Pemirsa merasa mengerti. Namun, foto-foto itu baru sungguh-sungguh “bersuara” ketika mendapatkan naskah.

Strukturalisme adalah metodologi linguistik, sosiologi, dan antropologi. Dalam pendekatan ini, elemen-elemen pembentuk budaya manusia harus dipahami dalam kaitannya dengan struktur atau sistem yang lebih luas. Studi mengenai semiotika semakin berkembang dalam pemikiran ini, melalui Ferdinand de Saussure pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ciri upaya dalam gerakan ini adalah tujuannya untuk mengungkap struktur yang mendasari semua yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan manusia.

Post-strukturalisme merupakan sebutan, atau penggolongan, yang dilakukan kaum akademisi Amerika terhadap karya maupun pemikiran yang muncul sejak 1960-an. Tampak mengkritisi pemikiran Strukturalisme, kelompok ini berkembang di Prancis dan Eropa keseluruhan. Jean Baudrillard, Jacques Derrida, Roland Barthes, Umberto Eco, adalah beberapa pemikir yang kerap digolongkan ke dalam post-strukturalisme. Bagaimanapun, sebagian cendekiawan menolak label ini.

(Lampiran buku Pada Suatu Foto: Cerita dan Filosofi dalam Fotografi halaman 328-331)